Ketika Sistem Penghargaan Mendorong Perilaku yang Tidak Diinginkan

Organisasi sering menyampaikan perilaku yang ingin dibangun: kolaborasi, inovasi, integritas, orientasi pelanggan, dan keberanian mengambil tanggung jawab.

Namun, pada saat yang sama, sistem penghargaan dapat mengirimkan pesan yang berbeda.

Karyawan diminta berkolaborasi, tetapi bonus ditentukan hanya dari pencapaian unit. Leader diminta mengembangkan tim, tetapi promosi diberikan kepada mereka yang menghasilkan angka tertinggi meskipun tingkat turnover di timnya besar. Orang didorong berinovasi, tetapi kegagalan kecil langsung memengaruhi penilaian kinerja.

Dalam situasi seperti ini, karyawan akan mengikuti konsekuensi yang nyata. Bukan karena mereka tidak memahami nilai organisasi, tetapi karena mereka memahami perilaku apa yang benar-benar menentukan penghargaan, karier, dan masa depan mereka.

Orang Mengikuti Apa yang Dihargai

Sistem penghargaan tidak hanya berbicara tentang uang.

Promosi, pengakuan, kesempatan mengikuti proyek strategis, akses kepada Leader, penugasan penting, dan toleransi terhadap perilaku tertentu juga merupakan bentuk penghargaan.

Ketika seorang karyawan yang mencapai target selalu mendapatkan promosi meskipun merusak kolaborasi, organisasi sedang mengajarkan bahwa hasil lebih penting daripada cara mencapainya. Ketika orang yang berani menyampaikan masalah justru dianggap tidak mendukung, organisasi sedang mendorong orang untuk diam.

Pesan formal mungkin mengatakan satu hal, tetapi keputusan nyata organisasi mengatakan hal lain.

Semakin sering ketidaksesuaian itu terjadi, semakin sulit nilai dan budaya perusahaan dipercaya.

KPI Dapat Menciptakan Perilaku yang Salah

Setiap indikator kinerja mengarahkan perhatian.

Jika sales hanya dinilai dari volume penjualan, mereka dapat terdorong menjanjikan sesuatu yang sulit dipenuhi oleh operasional. Jika procurement hanya dinilai dari penghematan harga, mereka mungkin memilih pemasok murah yang menimbulkan masalah kualitas. Jika produksi hanya mengejar jumlah output, risiko cacat atau persediaan berlebih dapat meningkat.

Masing-masing fungsi mungkin mencapai targetnya. Namun, organisasi secara keseluruhan justru menanggung konsekuensinya.

Masalah tersebut tidak selalu disebabkan oleh niat buruk. Orang beradaptasi terhadap ukuran keberhasilan yang ditetapkan organisasi.

Karena itu, KPI tidak cukup dinilai dari kemudahan pengukurannya. Organisasi perlu melihat perilaku apa yang mungkin muncul ketika orang berusaha mencapai angka tersebut.

Hasil dan Cara Mencapainya Harus Berjalan Bersama

Organisasi tetap membutuhkan pencapaian. Namun, hasil jangka pendek yang diperoleh dengan mengorbankan pelanggan, kualitas, kolaborasi, atau kesehatan tim dapat menciptakan biaya yang lebih besar pada masa depan.

Penilaian kinerja perlu mempertimbangkan dua dimensi: apa yang dicapai dan bagaimana hasil tersebut dicapai.

Seorang Leader tidak cukup dinilai dari pencapaian unitnya. Organisasi juga perlu melihat kemampuannya membangun tim, mengembangkan talent, menjaga kolaborasi, serta menghasilkan kinerja yang dapat dipertahankan.

Sebaliknya, perilaku positif tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan hasil. Sistem yang sehat menjaga keseimbangan antara kontribusi bisnis dan perilaku yang mendukung keberlanjutan organisasi.

Perilaku yang Dibiarkan Juga Mendapatkan Penghargaan

Tidak semua penghargaan diberikan secara formal.

Ketika organisasi membiarkan seorang high performer bersikap tidak etis, mengintimidasi tim, atau menahan informasi tanpa konsekuensi, perilaku tersebut secara tidak langsung mendapatkan penghargaan.

Orang lain akan melihat bahwa pencapaian tertentu memberikan perlindungan.

Pada titik ini, persoalannya bukan lagi satu individu. Organisasi telah menetapkan standar melalui apa yang dipilih untuk dibiarkan.

Konsistensi sangat penting. Jika nilai hanya diberlakukan kepada sebagian orang, sistem kehilangan kredibilitas. Karyawan akan menilai bahwa aturan dapat dinegosiasikan selama seseorang memiliki posisi atau hasil yang cukup kuat.

Periksa Pesan yang Dikirim oleh Sistem

Organisasi perlu meninjau hubungan antara strategi, nilai, KPI, promosi, bonus, pengakuan, dan konsekuensi.

Perilaku apa yang mendapatkan penghargaan? Siapa yang memperoleh promosi? Apa yang membuat seseorang dianggap berhasil? Apakah pencapaian satu unit menimbulkan masalah bagi unit lain? Apakah pelanggaran terhadap nilai tetap ditindak ketika dilakukan oleh orang berkinerja tinggi?

Jawaban atas pertanyaan tersebut menunjukkan budaya organisasi yang sebenarnya.

Sistem penghargaan yang efektif tidak hanya mendorong orang mencapai target. Sistem tersebut juga memastikan bahwa target dicapai dengan cara yang mendukung strategi, nilai, dan keberlanjutan bisnis.

Jika perilaku yang tidak diinginkan terus muncul, jangan terlalu cepat menyalahkan sikap karyawan.

Periksa terlebih dahulu apakah organisasi justru sedang memberikan penghargaan kepada perilaku tersebut.

#RewardSystem #PerformanceManagement #OrganizationalBehavior #CorporateCulture #Leadership #KeyPerformanceIndicators #HumanCapital #OrganizationalEffectiveness #StrategicHR




Baca juga

Scroll to Top