Mengapa Akuntabilitas Sulit Tumbuh dalam Peran yang Tidak Jelas?

Banyak organisasi mengeluhkan rendahnya akuntabilitas.

Pekerjaan terlambat, masalah tidak segera diselesaikan, dan ketika hasil tidak sesuai harapan, setiap orang memiliki alasan mengapa tanggung jawab tersebut seharusnya berada pada pihak lain.

Respons yang muncul biasanya adalah meminta karyawan lebih bertanggung jawab. Leader mengingatkan pentingnya ownership, komitmen, dan keberanian mengambil keputusan.

Namun, tuntutan tersebut tidak banyak mengubah keadaan.

Masalahnya mungkin bukan karena orang tidak mau bertanggung jawab. Mereka bekerja dalam sistem yang tidak menjelaskan secara tegas siapa bertanggung jawab atas apa.

Akuntabilitas sulit tumbuh ketika peran tidak memiliki batas, hasil, dan kewenangan yang jelas.

Daftar Tugas Tidak Menjelaskan Akuntabilitas

Banyak job description berisi daftar aktivitas seperti melakukan koordinasi, membantu pelaksanaan, memantau proses, atau memastikan pekerjaan berjalan dengan baik.

Kalimat tersebut menjelaskan keterlibatan, tetapi tidak menunjukkan hasil yang menjadi tanggung jawab jabatan.

Ketika beberapa peran sama-sama diminta berkoordinasi atau memastikan, tidak ada satu pihak yang benar-benar memiliki hasil akhirnya. Semua orang terlibat, tetapi akuntabilitas tersebar.

Daftar tugas menjawab apa yang dilakukan. Akuntabilitas menjawab hasil apa yang harus diwujudkan dan siapa yang harus mempertanggungjawabkannya.

Tanpa kejelasan hasil, penilaian kinerja mudah bergeser menjadi perdebatan tentang aktivitas: siapa yang sudah mengirim pesan, menghadiri meeting, atau meneruskan informasi.

Kesibukan menjadi bukti kontribusi, meskipun masalah belum selesai.

Tanggung Jawab Tidak Diikuti Kewenangan

Organisasi sering memberikan tanggung jawab tanpa kewenangan yang sepadan.

Seorang manajer diminta meningkatkan produktivitas, tetapi tidak dapat mengubah proses atau mengatur sumber daya. Sebuah unit bertanggung jawab atas pengalaman pelanggan, tetapi keputusan penting berada di beberapa fungsi lain.

Ketika hasil tidak tercapai, pemegang peran tetap diminta bertanggung jawab meskipun tidak memiliki kendali terhadap faktor yang menentukan hasil tersebut.

Kondisi ini menciptakan frustrasi sekaligus perilaku defensif.

Orang belajar melindungi diri dengan mengumpulkan bukti bahwa mereka telah melakukan bagiannya. Fokus berpindah dari menyelesaikan persoalan menjadi memastikan kesalahan tidak diarahkan kepada mereka.

Akuntabilitas yang sehat membutuhkan keseimbangan antara tanggung jawab, kewenangan, sumber daya, dan informasi.

Tumpang Tindih Membuat Keputusan Terlambat

Peran yang tidak jelas juga menciptakan wilayah abu-abu dalam pengambilan keputusan.

Beberapa pihak merasa berhak memutuskan hal yang sama. Sebaliknya, tidak ada yang berani bertindak karena menganggap keputusan berada di luar kewenangannya.

Masalah kemudian naik ke meja Leader, termasuk persoalan operasional yang seharusnya dapat diselesaikan pada level lebih dekat dengan pekerjaan.

Keputusan menjadi lambat dan Leader berubah menjadi bottleneck.

Organisasi perlu menetapkan decision rights secara jelas. Siapa yang memberikan masukan? Siapa yang mengambil keputusan? Siapa yang menjalankan? Siapa yang bertanggung jawab terhadap hasil akhir?

Kolaborasi dapat melibatkan banyak pihak. Namun, akuntabilitas terhadap satu hasil tidak boleh dibiarkan tanpa pemilik yang jelas.

Konsekuensi Tidak Dapat Diberikan secara Adil

Sistem kinerja membutuhkan standar yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jika peran, target, dan kewenangan tidak jelas, organisasi akan kesulitan membedakan antara kegagalan individu dan kegagalan sistem. Orang dapat dinilai buruk untuk hasil yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya. Sebaliknya, kinerja yang rendah dapat terus dibiarkan karena tidak ada dasar penilaian yang tegas.

Akibatnya, karyawan melihat bahwa konsekuensi bergantung pada persepsi Leader, bukan pada kesepakatan yang jelas.

Situasi tersebut merusak kepercayaan dan membuat orang semakin enggan mengambil tanggung jawab.

Akuntabilitas membutuhkan konsekuensi. Namun, konsekuensi hanya adil jika ekspektasi, ukuran keberhasilan, dan ruang pengambilan keputusan telah dijelaskan sejak awal.

Bangun Kejelasan Sebelum Menuntut Akuntabilitas

Untuk memperkuat akuntabilitas, organisasi perlu memastikan setiap peran memahami tujuan jabatan, hasil utama, batas tanggung jawab, indikator kinerja, hubungan kerja, serta kewenangan yang dimiliki.

Leader juga perlu berhenti mengambil alih setiap keputusan. Jika orang selalu kehilangan kewenangan ketika terjadi kesalahan, mereka akan belajar bahwa bertanggung jawab memiliki risiko, sedangkan menunggu arahan adalah pilihan yang lebih aman.

Akuntabilitas bukan sekadar karakter personal. Akuntabilitas merupakan hasil dari desain organisasi yang memberikan kejelasan, kapasitas, kepercayaan, dan konsekuensi secara konsisten.

Sebelum kembali meminta orang memiliki ownership, periksa apakah sistem telah memberi mereka sesuatu yang benar-benar dapat dimiliki.

Sebab, orang tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas peran yang batasnya kabur, hasilnya tidak jelas, dan keputusannya berada di tangan orang lain.

#Accountability #RoleClarity #DecisionRights #JobDescription #OrganizationDesign #PerformanceManagement #Leadership #OrganizationalEffectiveness #HumanCapital #StrategicHR



Baca juga

Scroll to Top